“Dek, mau tidak jadi istri dek Rahman?” Tanya mbak
Tari disela kesibukannya membuat pembukuan hasil penjualan yang dilakukan
setiap akhir bulan. Membuatku terkejut, membuyarkan konsentarsiku yang saat itu
sedang menemani anaknya belajar berhitung. Aku tidak dapat berkomentar apa-apa
hanya ku jawab dengan seulas senyum yang
diusahakan dapat menutupi rasa terkejutku dengan pertanyaannya.
“Kenapa hanya senyum, mbak tanyanya serius lho. Tapi
biasanya kalau ditanya hanya tersenyum itu tandanya setuju, bener kan? Hayoo
ngaku.” Goda mbak Tari yang tadinya fokus ke layar monitor kini menatap ke
arahku.
“Hehehe mbak Tari jangan bercanda dong, ganggu
konsentrasi nih.” Jawabku berusaha mengelak.
“Kan tadi mbak sudah bilang kalau tanya serius, kok
masih dibilang bercanda? Ya sudah selesaikan saja dulu belajarnya, kayaknya
Atah juga sudah ngantuk.” Jawab mbak Tari sembari bangkit dari kursi kerjanya
menuju dapur. Ku dengar mbak Tari sedang membuat minum. Dan benar saja ketika
masuk ke kamar mbak Tari membawa 2 gelas teh manis dan camilan.
“Mas Atah sudah selesai belajarnya?” Tanya mbak Tari
kepada anaknya yang sedang asyik bercerita tentang teman sekolahnya kepadaku.
“Sudah Bu.” Jawab Atah kepada mbak Tari.
Mbak Tari pun menyuruh Atah langsung tidur agar besok
pagi bangunnya tidak kesiangan. Tidak lama kemudian aku pamit pulang setelah
bercanda dan ngobrol ringan dengan mbak Tari mengingat waktu juga sudah mulai
larut malam. Untung saja tempat kostku dengan rumah mbak Tari berdekatan.
***
Udara pagi yang sejuk serta hangatnya sinar mentari
yang mulai mengantikan butiran-butiran bening embun pagi membuatku semakin
bersemangat untuk beraktivitas. Di tengah kesibukanku membersihkan rumah, mbak
Tari datang mencariku.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara mbak Tari di
depan rumah sembari mengetuk pintu. Aku pun lari membukakan pintu.
“Wa’alaikumussalam.. ada apa mbak Tari, masih pagi
kok sudah datang ke rumah?” tanyaku kepada mbak Tari yang tampak begitu cantik
dengan gamis warna biru soft yang dikombinasi jilbab warna putih bersih.
“Kamu ada acara tidak? Kalau tidak ayo ikut mbak
jalan-jalan.” Jelas mbak Tari mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah.
“Kebetulan hari ini aku tidak ada acara mbak. Dalam
rangka apa ini mbak?” tanyaku.
“Syukurlah kalau begitu. Hanya refreshing saja. Ya
sudah sekarang kamu siap-siap mbak mau pulang dulu. Nanti kalau sudah siap langsung saja ke rumah yang
lain sudah menunggu. Assalamu’alaikum..”
“Iya mbak, wa’alaikumussalam…” jawabku. Hmm yang lain
sudah menunggu, siapa yang mbak Tari maksud? Gumamku. Ah mungkin suami dan
anak-anak mbak Tari. Mbak Tari pun segera pulang sambil berlari kecil sedangkan
aku pun bergegas siap-siap dan langsung ke rumah mbak Tari.
Deg, itu yang seketika aku rasakan setelah sampai di
halaman rumah mbak Tari. Apa aku tidak salah lihat, benarkah dia mas Rahman? Sejenak
ku hentikan langkah kakiku dan ku tarik nafas dalam-dalam lalu ku lepaskan
perlahan. Ya Allah, ternyata benar dia mas Rahman. Tapi kenapa begitu aku
melihat mas Rahman hati ini jadi berdetak tidak karuan? Ya Allah, tolonglah
hamba.. rintihku dalam hati. Tak lama mbak Tari muncul dari balik pintu dengan
beberapa camilan di tangannya yang dimasukkan ke dalam kantong plastik.
“Semuanya sudah siap kan?” Tanya mbak Tari sambil
meletakkan camilan yang dibawanya ke dalam bagasi mobil.
“Sudah.” Jawab mas Mukhsin, suami mbak Tari.
Di sepanjang perjalanan aku hanya diam melihat
pemandangan di luar lewat jendela mobil, tak henti-hentinya hatiku membisikkan
takbir atas semua keindahan ciptaan Allah. Dan sesekali bercanda dengan Atah
atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar darinya ketika melihat
hal-hal baru baginya. Aku sangat bangga dengan Atah, meski masih duduk di
bangku TK tapi dia sangat aktif dan cerdas.
“Yeee kita sudah sampai.” Sorak Atah ketika mobil
sudah melewati gerbang penjaga.
“Subhanallah…“ itu yang terucap dari bibirku ketika
pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pantai karena selama ini aku hanya
dapat melihat potret-potret pantai di internet. Perpaduan yang sangat sempurna,
air laut yang berombak, pasir putih yang luas dipadukan dengan birunya langit
yang indah ditambah dengan hembusan angin yang sejuk.
***
Selesai sholat maghrib, aku dan Ica berjalan menuju sebuah toko untuk membeli buku karena buku absen santri TPA sudah hampir habis. Kami pun melewati ruko tempat mas Rahman bekerja, ku lihat dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Entah mengapa tiba-tiba dia menengok ke arahku seperti tahu bahwa yang lewat adalah aku. Aku berusaha menyembunyikan rasa kagetku dengan tersenyum kepadanya dan dia pun membalasnya. Senyum mas Rahman yang memang selama ini aku nantikan dan entah mengapa aku selalu rindu pada senyuman khas itu.
"Ehm ternyata mas Rahman naksir kamu lho Ka." Kata Ica mengagetkanku.
"Eh! tidak mungkin. Dia itu orang yang super cuek jadi aku tidak akan pernah percaya kalau dia suka denganku." jawabku singkat.
"kayaknya kamu deh yang super cuek. Apa kamu tidak sadar waktu dia melihatmu tadi, dia terlihat sangat bahagia lho.Begitu sumringah." Jelas Ica lali melirikku dengan tatapan jahilnya.
"Ah kamu ini Ca, sok tau deh." Sergahku.
"Tuh kan pipinya jadi merah, udah deh ngaku aja kalau kamu itu juga suka mas Rahman. Cie-cie ternyata Fika suka mas Rahman..." Ica kembali menggodaku sehingga membuatku ingin menutup mulutnya tapi Ica sudah lari sebelum aku berhasil menutup mulutnya.
***
Seletah sekian lama aku menemani Atah belajar, aku
mulai tahu tentang mas Rahman yang pendiam, sulit bergaul dan tengah melawan
penyakitnya yang aku sendiri tidak tahu penyakit apa. Kadang membuatku heran,
sedemikian parahnya kah sakit yang diderita mas Rahman hingga tiada hari tanpa
minum obat.
“Ya Allah,
berilah hamba pentunjuk dalam menentukan pilihan ini. Jikalau memang mas Rahman
adalah jodoh hamba, maka mantapkanlah hati hamba ini. Ya Allah, hamba sadar
tiada manusia yang sempurna itu lah sebabnya Engkau menciptakan makhluk-Mu
berpasang-pasangan agar saling melengkapi. Maka, jadikanlah hamba sebagai
pelengkapnya, jadikanlah hamba sebagai obat segala sakitnya, jadikanlah hamba
sebagai istri yang menyenangkan bila dipandang, jadikanlah hamba sebagai
penghapus letihnya, jadikanlah hamba pelipur duka laranya, jadikanlah hamba
istri yang mampu menguatkannya dikala ia rapuh. Jadikanlah kami sepasang
suami-istri yang saling melengkapi dengan segala kelebihan dan kekurangan kami.
Namun jika mas Rahman bukan jodoh hamba, maka hapuskanlah rasa cinta ini Ya
Allah dan gantilah rasa cinta ini menjadi persaudaraan karena-Mu. Aamiin Yaa
Rabbal’alamiin.” Di atas hamparan sajadah, di sela derai air mata yang mengalir,
ku memohon pada-Nya agar memberikan petunjuk kepadaku dalam menentukan pilihan
ketika mas Rahman memberitahukan bahwa keluarganya akan datang ke rumah untuk
meminangku.
***
Dari kejauhan mobil keluarga mas Rahman sudah kelihatan,
maka keluargaku segera bersiap menyambut kedatangan keluarga mas Rahman sedangkan
aku, aku memilih untuk di dalam rumah saja dan menyiapkan hidangan serta
membuatkan minum untuk keluarga mas Rahman. Samar-samar ku dengar pembicaraan
antara keluargaku dengan keluarga mas Rahman di ruang tamu.
“Sebelumnya mohon maaf saya sampaikan kepada Bapak
Anto dan Ibu Imah jika kedatangan saya ke sini menganggu aktivitas bapak-ibu. Maksud kedatangan saya sekeluarga ke sini yang
pertama untuk silaturahim dan yang kedua ingin meminta putri bapak-ibu yang
bernama Fika Syifa’ Az-Zaka untuk saya jadikan anak.” Pak Udin menjelaskan
maksud kedatangannya sekeluarga kepada orang tuaku dan tidak lupa Pak Udin
memperkenalkan keluarganya kepada keluargaku.
“Tidak perlu minta maaf Pak, saya justru senang Bapak
Udin sekeluarga berkenan singgah di gubuk saya ini dan untuk masalah keinginan
Bapak menjadikan putri saya sebagai putri Bapak, itu semua saya serahkan
kembali kepada putri saya karena yang akan menjalani juga putri saya dan putra
Bapak.” Jawab ayahku setelah Pak Udin menyampaikan maksud kedatangannya.
“Kalau soal putri Bapak bersedia atau tidak, saya
kemarin sempat menanyakannya langsung kepada putri Bapak, dan Alhamdulillah dia
bilang Insya Allah sudah siap.” Kali ini yang ku dengar suara Bu Uswatun, ibu
mas Rahman. Memang saat aku ditanya Ibunya mas Rahman aku menjawab Insya Allah
sudah siap karena aku sudah merasa mantap dengan pilihan itu.
Saat itu aku masih di dapur membuatkan minum. Setelah
selesai, dengan hati yang tidak karuan aku mengantarkan minum ke depan. Serta
merta semua yang ada di ruang tamu memandang ke arahku, tidak terkecuali mas
Rahman. Tatapan matanya begitu teduh membuat hati ini berdetak semakin cepat
dan nafaspun rasanya tersekat ditenggorokan. Allahu Akbar… begitu sempurna
ciptaan Allah ini. ‘Ya Allah, ampuni hamba telah memandangnya’ bisikku dalam
hati.
“Bagaimana nak Fika, bapak dan ibu sudah setuju lho?”
Tanya Bu Uswatun kepadaku setelah aku bersalaman dengannya dan duduk di sampingnya.
Rasanya ingin teriak senang dan mengiyakan pinangan
itu sebagai jawaban bahwa pinangan itu aku terima, namun apa daya rasa malu
menyelimuti diri hingga untuk berucappun aku tidak bisa. Hanya dengan anggukan
serta senyum malu-malu yang dapat mewakili jawabanku.
***
“Dek Fika, kapan punya waktu luang? Mbak mau ajak
beli perlengkapan buat seserahan besok nih.” Tanya mbak Tari saat aku bertemu
dengannya di sebuah resto dekat taman, dengan gamis warna biru dongker
dikombinasi dengan jilbab putih bersih membuat mbak Tari terlihat begitu ayu
dan anggun.
“Hari ini aku tidak ada acara mbak.” Jawabku sembari
duduk di kursi sebelah mbak Tari.
“Yaps, kalau begitu sekarang saja ya? Mumpung mbak
ada waktu.” kata mbak Tari sembari menyelesaikan makannya.
“oke mbak.” Jawabku singkat.
Setelah mbak Tari membayar makanannya ke kasir, kami
pun meluncur ke sebuah swalayan terdekat. Aku bingung mau beli apa sehingga
mbak Tari lah yang memilihkannya untukku karena kebetulan seleraku dan selera
mbak Tari sama. Ciee apakah ini salah satu tanda bahwa kami akan menjadi
keluarga? Entahlah aku sendiri tidak tahu, yang pasti semua ini adalah skenario
Allah yang sangat indah untukku. Setelah belanja beberapa perlengkapan rias
dilanjut menuju tempat perlengkapan pakaian, tiba-tiba mbak Tari bertanya
kepadaku, “Sudah benar-benar siap kan dek?”
“Insya Allah mbak.” Jawabku singkat disertai seulas
senyum tulusku.
“Siap tidak siap harus siap, pokoknya mbak Tari
percaya dek Fika pasti bisa jadi istri yang terbaik untuk dek Rahman.” Jawab
mbak Tari sembari merangkul pundakku dari samping membuatku merasa nyaman dan
lebih dekat dengan mbak Tari. Meski kami belum menjadi satu keluarga tapi sejak
awal kenal mbak Tari sudah menganggapku seperti adik sendiri dan tak jarang
mbak Tari mengajakku liburan atau sekedar makan keluar bersama keluarganya.
***
Hari yang ditentukan telah tiba, kini semua anggota
keluargaku sibuk mempersiapkan segala keperluan acara akad nikah antara aku
dengan mas Rahman. Sedangkan aku, aku harus duduk diam di sebuah ruang khusus
bersama seorang wanita dengan didampingi 2 orang asistennya yang begitu cekatan
merias wajahku. “Sabar Fika, ini hanya sebentar kok.” Kataku dalam hati yang
notabene aku bukanlah orang yang suka dirias.
Suasana di luar begitu khidmat saat acara ijab qabul
dimulai. Sebuah perjanjian suci antara seorang hamba dengan Tuhan nya yang
mampu mengoncangkan ‘Arsy-Nya. Saat itu yang ku dengar hanya suara Pak
Penghulu, ayahku yang menjadi waliku dan sudah pasti suara mas Rahman. Tak lama
kemudian ku dengar begitu jelas semua yang hadir mengucapkan “sah” dilanjut
dengan do’a.
“Alhamdulillah…” bisikku dalam hati. Tak lama
kemudian ibuku masuk kedalam ruangan tempat di mana aku berada dan mendampingiku
keluar untuk menemui mas Rahman yang kini telah sah menjadi suamiku, imam dalam
setiap sujudku. Sungguh haru saat aku melihat senyum mas Rahman yang begitu
tulus ketika melihatku. Ibu yang tahu akan apa yang aku rasakan kini mengenggam
erat tanganku dan menuntunku hingga sampai di hadapan mas Rahman.
Sebagai bukti kasih sayang di antara kami berdua, mas
Rahman menyematkan sebuah cincin di jari manisku sedangkan aku mengucup
punggung tangannya penuh rasa syukur hingga tanpa terasa air mata bahagia mengalir
membasahinya. Perlahan Mas Rahman mengangkat wajahku dan mengusap air mata di
pipiku dengan kedua ujung ibu jarinya lalu mencium keningku penuh kasih sayang.
***
Hari ini terasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya,
sekarang ada yang membangunkanku di sepertiga malam-Nya dan membimbingku
membaca dan memahami kalam-kalam-Nya. Sesuatu yang sangat aku nanti-nantikan
sejak duduk di bangku SMK dulu. Ku rasakan kecupan hangat mendarat di keningku
saat mas Rahman akan membangunkanku untuk sholat malam.
“Dek, ayo bangun. Kita sholat yuk.” Ajak mas Rahman
sembari membelai kepalaku.
“emh, mas sudah bangun ya?” Tanyaku saat ku buka mata
mas Rahman telah duduk di samping tempat aku tidur dengan senyumnya yang
terkembang di sudut bibirnya.
“Sudah dong, ayo cepetan bangun.” Mas Rahman meraih
tanganku dan mengajakku ke tempat wudlu.
Sungguh bahagia aku bisa menjadi istri mas Rahman,
dia berbeda dengan laki-laki kebanyakan. Yah dia begitu istimewa bagiku.
Setelah selesai sholat, mas Rahman membimbingku mengeja kalam-kalam-Nya dan
menjelaskan maksud dari setiap ayat-ayatnya. Sesekali dia mencubit hidungku
karena aku tidak langsung paham dengan apa yang dia sampaikan.
Adzan shubuh segera berkumandang, mas Rahman pun
pamit ingin sholat berjama’ah di masjid sembari mengecup keningku dan bergegas
keluar menuju masjid.
***
Pagi yang indah dan butiran embun memantulkan sinar
mentari membuat suasana pagi ini sangat menyenangkan. Untuk yang pertama
kalinya aku memasak untuk mas Rahman, aku bingung menu apa yang cocok mengawali
pagi ini hingga ku putuskan saja untuk membuatkannya sayur asam ala chef Fika.
“Tara… makanan sudah siap sayang. Ini adek buatkan
sayur asem ala chef Fika dengan racikan bumbu cinta.” Kataku dan Mas Rahman pun
tertawa saat aku menghidangkan semangkok sayur asam di hadapannya.
“Ini bener kamu yang masak?” Tanya mas Rahman dengan
tatapan jailnya.
“Iya dong mas, mau siapa lagi?” jawabku dengan muka
cemberut dan segera saja aku ingin berlalu dari hadapan mas Rahman. Namun
gagal, dia langsung menarik tanganku hingga aku jatuh ke dalam pangkuannya.
Lagi-lagi hidungku jadi sasaran cubitan jemarinya.
“Jangan cemberut dong sayang, mas kan hanya bercanda.
Hmm aromanya enak nih, mas sudah tidak sabar ingin mencoba masakan istri mas
yang tercinta ini.” Kata mas Rahman membuatku tersenyum seketika itu juga. Aku
pun langsung mengambilkannya dengan mangkok kecil yang sudah aku siapkan
sebelumnya.
Hari-hari yang ku lalui bersama mas Rahman membuatku
merasa menjadi wanita yang paling bahagia. Takdir Allah yang begitu indah dengan
perantara perkenalanku dengan mbak Tari beberapa tahun lalu menjadi jalan
pertemuanku dengan belahan jiwaku. Semoga Allah kan mengabadikan cinta ini
sampai ke Syurga-Nya. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin…
_______________________________________________
Play “Kau Ditakdirkan Untukku” by Edcoustic
Terucap syukurku... Aku memilihmu
‘tuk menjadi teman hidup setia slamanya
Belahan hati ini... Kini tlah terisi
Aku dan dirimu mengikat janji bahagia…
Dan berlayarlah kita renda keluarga meretas hidup bersama
Aku bahagia ku dipertemukan belahan jiwaku
Tuhan persatukan kami untuk slamanya hingga bahagia di surga-Mu
Pegang tanganku, tataplah mataku… Engkau ditakdirkan untukku
Ikatan suci ini... Slalu ‘kan ku jaga
Meniti sakinah... Penuh Kasih Sayang dan Rahmat-Nya...
‘tuk menjadi teman hidup setia slamanya
Belahan hati ini... Kini tlah terisi
Aku dan dirimu mengikat janji bahagia…
Dan berlayarlah kita renda keluarga meretas hidup bersama
Aku bahagia ku dipertemukan belahan jiwaku
Tuhan persatukan kami untuk slamanya hingga bahagia di surga-Mu
Pegang tanganku, tataplah mataku… Engkau ditakdirkan untukku
Ikatan suci ini... Slalu ‘kan ku jaga
Meniti sakinah... Penuh Kasih Sayang dan Rahmat-Nya...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar