Selamat Datang

Selamat Datang

Sabtu, 22 Februari 2014

Ketika Pertemuan Menjadi Bermakna

 Tatkala aku dalam kesendirian yang mencekam….

Aku merenungi setiap langkah yang pernah ku lalui…

Di kejauhan nampak samar perlahan engkau mendekatiku…

Menyapaku dengan sapaan yang menyejukkkan hati…

Tahukah engkau, sapaan lembutmu mengejutkanku…

Siapakah gerangan? Aku tak tahu karna kita belum pernah bertemu…

Lalu kau ulurkan tanganmu untuk berjabat denganku…

Dengan gugup ku sambut tanganmu yang lembut…

Subhanallah… tentramnya hati ini Ya Rabbi…

Sejak saat itu, ku mulai mengenalmu…

Engkaulah yang dinamakan seorang sahabat…

Sahabat yang tak bisa berucap ketika melihatku bahagia…

Karna jauh di dalam hatimu, engkau lebih bahagia melihatku bahagia…

Sahabat yang tak bisa menangis ketika melihatku bersedih…

Karna jauh di dalam hatimu, engkau hancur berkeping-keping…

Karna engkau tahu apa itu kehabagiaan…

Yang hanya dapat dirasakan, tak dapat diungkapkan dengan kata-kata…

Karna engkau tahu apa itu kesedihan…

Bukan untuk diratapi, tapi untuk dimotivasi dan dinasehati…

Pertemuan ini sungguh suatu berkah dari-Nya…

Allah lah yang mentakdirkan kita bertemu…

Dalam sebuah ikatan yang murni dan sejati…


Yaitu sebuah “Ukhuwah Fillah”

Jumat, 21 Februari 2014

Semburat Kerinduan Masa Kecil

Siapa yang tak akan rindu masa kecilnya?
Masa yang penuh dengan canda tawa, senyum ceria
Tanpa ada beban pikiran yang mengantung di kepala
Dan itulah yang tiba-tiba merasuk dalam kalbuku
Aku merindukan masa kecilku
Masa-masa saat bersamamu

Duhai kakakku yang cantik
Di manakah kini engkau berada?
Belasan tahun lamanya kita tak jumpa
Belasan tahun pula engkau tanpa kabar berita
Adakah di sana engkau masih ingat akan diriku?
Masihkah engkau ingat saat kita bersama?
Menyanyikan lagu anak-anak di gazebo pinggir kolam
Di samping keceriaan orang-orang yang kita sayangi
Diiringi hembusan angin yang membelai lembut

Duhai istanaku tercinta
Terima kasih ku sampaikan padamu
Karna engkau menjadi tempatku berteduh
Dari teriknya sinar mentari yang menyengat
Dari derasnya hujan yang membasahi bumi
Menjadi saksi bisu kehidupan masa kecilku
Namun, akankah engkau kembali lagi
Menjadi saksi bisu masa tuaku kelak?

Duhai sahabat kecilku
Di belahan bumi manakah engkau sekarang?
Masihkah engkau memijakkan kakimu di bumi ini?
Ataukah engkau telah kembali pada-Nya saat bencana itu terjadi?
Bencana yang memporak-porandakan alam ini
Menumpahkan tangis yang menggema di angkasa raya

Selalu ku kirimkan do’a untukmu
Duhai kakakku yang cantik
Sahabat kecilku yang baik hati

**********************************************************************

Bintang kecil
Di langit yang tinggi
Amat banyak
Menghias angkasa
Aku ingin
Terbang dan menari
Jauh tinggi
Ke tempat kau berada


#Ku nyanyikan lagu ini untukmu duhai kakakku yang cantik
Karna lagu ini lah yang pernah kita nyanyikan bersama
Semoga Allah selalu melindungimu

Salam rindu dari adikmu

Selembut Sang Bayu

Setiap ayunan langkah kakiku…

Bayangmu hadir menemani…

Entah sampai kapankah…

Entah sampai di manakah…

Bayangmu akan menemaniku…

Akankah sekejap dalam hidupku…

Lalu menghilang ditelan bumi…

Ataukah selamanya…

Menjadi dirimu yang nyata di sisiku…

Ku biarkan semua ini…

Mengalir lembut bagai sang bayu…

Yang menerpa wajah-wajah letih…

Melenakan setiap jiwa yang lelah…

Menandakan akan hadirnya sang malam…

Malam yang penuh dengan misteri…

Dengan atau tanpa sinar rembulan…


Dengan atau tanpa gemerlap bintang…

Ketika Hati Bertanya

Deburan ombak terus menghantam karang

Sekeras angin berhembus membawanya

Ia tak pernah mengenal lelah

Tak pernah berhenti meski sekejab

Terkadang ia menghantam terlalu keras

Hingga sang karang mulai goyah

Hendak jatuh ke dalam lautan

Sang karang mencoba bertahan

Dalam gentingnya keadaan

Sang karang bertanya, “Mampukah aku bertahan?”

Itulah yang ku rasakan saat ini

“Mampukah aku bertahan?”

Mana kala ujian terus menerpa

 Menghantam tebing istana silaturahim

Antara aku dan kamu yang telah lama terbina

Datangnya seorang insan yang menginginkanmu

Namun tak menginginkanku tuk hadir di sampingnya

Dalam kesunyian malam tanpa bintang

Ku bertanya pada hati, “Haruskah aku pergi, sedang aku tak ingin jauh darinya?”


Cinta Insan Biasa

Hai… perkenalkan namaku cinta…

Aku bukanlah seorang penjual baju…

Yang selalu mengobral cintaku pada setiap orang…

Aku bukanlah seorang SPG…

Yang selalu berkata manis untuk merayumu…

Aku bukanlah seorang diktator…

Yang selalu memaksamu untuk menerima cintaku…

Tapi… aku hanyalah cinta insan biasa…

Yang mana rasa cintaku padamu…

Tak akan pernah mampu mengalahkan cinta-Nya padamu…

Yang mana rasa sayangku padamu…

Tak akan pernah mampu menandingi sayang-Nya padamu…

Maka… ku titipkan cintaku pada-Nya…

Meski aku terlihat tak peduli dan acuh…

Sesungguhnya jauh di lubuk hatiku…

Memendam rindu yang sering membelenggu…

Karna aku sadar cinta ini hanyalah cinta insan biasa…

Yang hanya mampu membasuhnya…

Dengan beningnya air wudlu yang mengalir…

Yang hanya mampu membisikkannya…

Melalui bait-bait do’a yang ku panjatkan pada-Nya…

Yaa Allah… sampaikanlah cintaku ini padanya…

Yang telah Engkau pilihkan untukku…

Yang akan menemaniku meniti jalan-Mu…

Jalan menuju rahmat dan ampunan-Mu…


Aamiin Yaa Rabbal’alamiin…

Kamis, 20 Februari 2014

Belajar, Belajar dan Belajar

Belajar SABAR meski tertatih…
Belajar IKHLAS meski kadang suka mengeluh…
Belajar TABAH meski hati susah…
Belajar TEGAR meski sering menangis karna jatuh dan terluka…
Belajar MENAHAN AMARAH meski hati berdarah…
Belajar dan belajar…
Belajar tak ubahnya menanam sebitur biji…
Disemai dengan kesabaran…
Dirawat penuh dengan keikhlasan sekali kadang lelah menanti biji itu akan berkecambah dan bertunas…
Namun tak ada alasan untuk tidak BELAJAR MENJADI YANG LEBIH BAIK dari kemarin…