Selamat Datang

Selamat Datang

Selasa, 21 April 2015

Dalam Diam Ketulusan Bersemayam


Terlalu sering aku merasa terabaikan
Terlalu lama aku merasa sendiri
Terlalu sulit untuk sedetik bersamamu
Terlalu banyak hal yang terlewatkan tanpamu

Mungkin benar engkau seorang pekerja keras
Mungkin benar semua itu untuk kebaikan bersama
Mungkin benar engkau terlalu lelah
Mungkin benar kesibukan terus membelenggumu

Namun sadarkah engkau?
Di sini aku sangat membutuhkanmu
Tahukah engkau?
Di sini aku sangat merindukanmu

Bukan harta yang aku inginkan
Cukup engkau ada di sampingku
Bukan tahta yang aku dambakan
Hanya ingin lalui waktu bersamamu

Dalam kesendirian aku merenung
Dalam diam air mata ini menetes
Dalam sunyi kau terbawa mimpi
Dalam lamunan bayangmu hadir

Aku coba pahami
Aku coba mengerti
Aku coba terima
Hingga aku sadari

Ketulusan tidak mengharapkan balasan
Menerima semua keadaan
Merelakan semua yang terjadi
Meski kadang hati meronta dalam diam


Kado Perkenalan


“Dek, mau tidak jadi istri dek Rahman?” Tanya mbak Tari disela kesibukannya membuat pembukuan hasil penjualan yang dilakukan setiap akhir bulan. Membuatku terkejut, membuyarkan konsentarsiku yang saat itu sedang menemani anaknya belajar berhitung. Aku tidak dapat berkomentar apa-apa hanya ku jawab dengan seulas senyum  yang diusahakan dapat menutupi rasa terkejutku dengan pertanyaannya.
“Kenapa hanya senyum, mbak tanyanya serius lho. Tapi biasanya kalau ditanya hanya tersenyum itu tandanya setuju, bener kan? Hayoo ngaku.” Goda mbak Tari yang tadinya fokus ke layar monitor kini menatap ke arahku.
“Hehehe mbak Tari jangan bercanda dong, ganggu konsentrasi nih.” Jawabku berusaha mengelak.
“Kan tadi mbak sudah bilang kalau tanya serius, kok masih dibilang bercanda? Ya sudah selesaikan saja dulu belajarnya, kayaknya Atah juga sudah ngantuk.” Jawab mbak Tari sembari bangkit dari kursi kerjanya menuju dapur. Ku dengar mbak Tari sedang membuat minum. Dan benar saja ketika masuk ke kamar mbak Tari membawa 2 gelas teh manis dan camilan.
“Mas Atah sudah selesai belajarnya?” Tanya mbak Tari kepada anaknya yang sedang asyik bercerita tentang teman sekolahnya kepadaku.
“Sudah Bu.” Jawab Atah kepada mbak Tari.
Mbak Tari pun menyuruh Atah langsung tidur agar besok pagi bangunnya tidak kesiangan. Tidak lama kemudian aku pamit pulang setelah bercanda dan ngobrol ringan dengan mbak Tari mengingat waktu juga sudah mulai larut malam. Untung saja tempat kostku dengan rumah mbak Tari berdekatan.
***
Udara pagi yang sejuk serta hangatnya sinar mentari yang mulai mengantikan butiran-butiran bening embun pagi membuatku semakin bersemangat untuk beraktivitas. Di tengah kesibukanku membersihkan rumah, mbak Tari datang mencariku.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara mbak Tari di depan rumah sembari mengetuk pintu. Aku pun lari membukakan pintu.
“Wa’alaikumussalam.. ada apa mbak Tari, masih pagi kok sudah datang ke rumah?” tanyaku kepada mbak Tari yang tampak begitu cantik dengan gamis warna biru soft yang dikombinasi jilbab warna putih bersih.
“Kamu ada acara tidak? Kalau tidak ayo ikut mbak jalan-jalan.” Jelas mbak Tari mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah.
“Kebetulan hari ini aku tidak ada acara mbak. Dalam rangka apa ini mbak?” tanyaku.
“Syukurlah kalau begitu. Hanya refreshing saja. Ya sudah sekarang kamu siap-siap mbak mau pulang dulu. Nanti  kalau sudah siap langsung saja ke rumah yang lain sudah menunggu. Assalamu’alaikum..”
“Iya mbak, wa’alaikumussalam…” jawabku. Hmm yang lain sudah menunggu, siapa yang mbak Tari maksud? Gumamku. Ah mungkin suami dan anak-anak mbak Tari. Mbak Tari pun segera pulang sambil berlari kecil sedangkan aku pun bergegas siap-siap dan langsung ke rumah mbak Tari.
Deg, itu yang seketika aku rasakan setelah sampai di halaman rumah mbak Tari. Apa aku tidak salah lihat, benarkah dia mas Rahman? Sejenak ku hentikan langkah kakiku dan ku tarik nafas dalam-dalam lalu ku lepaskan perlahan. Ya Allah, ternyata benar dia mas Rahman. Tapi kenapa begitu aku melihat mas Rahman hati ini jadi berdetak tidak karuan? Ya Allah, tolonglah hamba.. rintihku dalam hati. Tak lama mbak Tari muncul dari balik pintu dengan beberapa camilan di tangannya yang dimasukkan ke dalam kantong plastik.
“Semuanya sudah siap kan?” Tanya mbak Tari sambil meletakkan camilan yang dibawanya ke dalam bagasi mobil.
“Sudah.” Jawab mas Mukhsin, suami mbak Tari.
Di sepanjang perjalanan aku hanya diam melihat pemandangan di luar lewat jendela mobil, tak henti-hentinya hatiku membisikkan takbir atas semua keindahan ciptaan Allah. Dan sesekali bercanda dengan Atah atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar darinya ketika melihat hal-hal baru baginya. Aku sangat bangga dengan Atah, meski masih duduk di bangku TK tapi dia sangat aktif dan cerdas.
“Yeee kita sudah sampai.” Sorak Atah ketika mobil sudah melewati gerbang penjaga.
“Subhanallah…“ itu yang terucap dari bibirku ketika pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pantai karena selama ini aku hanya dapat melihat potret-potret pantai di internet. Perpaduan yang sangat sempurna, air laut yang berombak, pasir putih yang luas dipadukan dengan birunya langit yang indah ditambah dengan hembusan angin yang sejuk.
***
Selesai sholat maghrib, aku dan Ica berjalan menuju sebuah toko untuk membeli buku karena buku absen santri TPA sudah hampir habis. Kami pun melewati ruko tempat mas Rahman bekerja, ku lihat dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Entah mengapa tiba-tiba dia menengok ke arahku seperti tahu bahwa yang lewat adalah aku. Aku berusaha menyembunyikan rasa kagetku dengan tersenyum kepadanya dan dia pun membalasnya. Senyum mas Rahman yang memang selama ini aku nantikan dan entah mengapa aku selalu rindu pada senyuman khas itu.
"Ehm ternyata mas Rahman naksir kamu lho Ka." Kata Ica mengagetkanku.
"Eh! tidak mungkin. Dia itu orang yang super cuek jadi aku tidak akan pernah percaya kalau dia suka denganku." jawabku singkat.
"kayaknya kamu deh yang super cuek. Apa kamu tidak sadar waktu dia melihatmu tadi, dia terlihat sangat bahagia lho.Begitu sumringah." Jelas Ica lali melirikku dengan tatapan jahilnya.
"Ah kamu ini Ca, sok tau deh." Sergahku.
"Tuh kan pipinya jadi merah, udah deh ngaku aja kalau kamu itu juga suka mas Rahman. Cie-cie ternyata Fika suka mas Rahman..." Ica kembali menggodaku sehingga membuatku ingin menutup mulutnya tapi Ica sudah lari sebelum aku berhasil menutup mulutnya.
***
Seletah sekian lama aku menemani Atah belajar, aku mulai tahu tentang mas Rahman yang pendiam, sulit bergaul dan tengah melawan penyakitnya yang aku sendiri tidak tahu penyakit apa. Kadang membuatku heran, sedemikian parahnya kah sakit yang diderita mas Rahman hingga tiada hari tanpa minum obat.
 “Ya Allah, berilah hamba pentunjuk dalam menentukan pilihan ini. Jikalau memang mas Rahman adalah jodoh hamba, maka mantapkanlah hati hamba ini. Ya Allah, hamba sadar tiada manusia yang sempurna itu lah sebabnya Engkau menciptakan makhluk-Mu berpasang-pasangan agar saling melengkapi. Maka, jadikanlah hamba sebagai pelengkapnya, jadikanlah hamba sebagai obat segala sakitnya, jadikanlah hamba sebagai istri yang menyenangkan bila dipandang, jadikanlah hamba sebagai penghapus letihnya, jadikanlah hamba pelipur duka laranya, jadikanlah hamba istri yang mampu menguatkannya dikala ia rapuh. Jadikanlah kami sepasang suami-istri yang saling melengkapi dengan segala kelebihan dan kekurangan kami. Namun jika mas Rahman bukan jodoh hamba, maka hapuskanlah rasa cinta ini Ya Allah dan gantilah rasa cinta ini menjadi persaudaraan karena-Mu. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin.” Di atas hamparan sajadah, di sela derai air mata yang mengalir, ku memohon pada-Nya agar memberikan petunjuk kepadaku dalam menentukan pilihan ketika mas Rahman memberitahukan bahwa keluarganya akan datang ke rumah untuk meminangku.
***
Dari kejauhan mobil keluarga mas Rahman sudah kelihatan, maka keluargaku segera bersiap menyambut kedatangan keluarga mas Rahman sedangkan aku, aku memilih untuk di dalam rumah saja dan menyiapkan hidangan serta membuatkan minum untuk keluarga mas Rahman. Samar-samar ku dengar pembicaraan antara keluargaku dengan keluarga mas Rahman di ruang tamu.
“Sebelumnya mohon maaf saya sampaikan kepada Bapak Anto dan Ibu Imah jika kedatangan saya ke sini menganggu aktivitas bapak-ibu.  Maksud kedatangan saya sekeluarga ke sini yang pertama untuk silaturahim dan yang kedua ingin meminta putri bapak-ibu yang bernama Fika Syifa’ Az-Zaka untuk saya jadikan anak.” Pak Udin menjelaskan maksud kedatangannya sekeluarga kepada orang tuaku dan tidak lupa Pak Udin memperkenalkan keluarganya kepada keluargaku.
“Tidak perlu minta maaf Pak, saya justru senang Bapak Udin sekeluarga berkenan singgah di gubuk saya ini dan untuk masalah keinginan Bapak menjadikan putri saya sebagai putri Bapak, itu semua saya serahkan kembali kepada putri saya karena yang akan menjalani juga putri saya dan putra Bapak.” Jawab ayahku setelah Pak Udin menyampaikan maksud kedatangannya.
“Kalau soal putri Bapak bersedia atau tidak, saya kemarin sempat menanyakannya langsung kepada putri Bapak, dan Alhamdulillah dia bilang Insya Allah sudah siap.” Kali ini yang ku dengar suara Bu Uswatun, ibu mas Rahman. Memang saat aku ditanya Ibunya mas Rahman aku menjawab Insya Allah sudah siap karena aku sudah merasa mantap dengan pilihan itu.
Saat itu aku masih di dapur membuatkan minum. Setelah selesai, dengan hati yang tidak karuan aku mengantarkan minum ke depan. Serta merta semua yang ada di ruang tamu memandang ke arahku, tidak terkecuali mas Rahman. Tatapan matanya begitu teduh membuat hati ini berdetak semakin cepat dan nafaspun rasanya tersekat ditenggorokan. Allahu Akbar… begitu sempurna ciptaan Allah ini. ‘Ya Allah, ampuni hamba telah memandangnya’ bisikku dalam hati.
“Bagaimana nak Fika, bapak dan ibu sudah setuju lho?” Tanya Bu Uswatun kepadaku setelah aku bersalaman dengannya dan duduk di sampingnya.
Rasanya ingin teriak senang dan mengiyakan pinangan itu sebagai jawaban bahwa pinangan itu aku terima, namun apa daya rasa malu menyelimuti diri hingga untuk berucappun aku tidak bisa. Hanya dengan anggukan serta senyum malu-malu yang dapat mewakili jawabanku.
***
“Dek Fika, kapan punya waktu luang? Mbak mau ajak beli perlengkapan buat seserahan besok nih.” Tanya mbak Tari saat aku bertemu dengannya di sebuah resto dekat taman, dengan gamis warna biru dongker dikombinasi dengan jilbab putih bersih membuat mbak Tari terlihat begitu ayu dan anggun.
“Hari ini aku tidak ada acara mbak.” Jawabku sembari duduk di kursi sebelah mbak Tari.
“Yaps, kalau begitu sekarang saja ya? Mumpung mbak ada waktu.” kata mbak Tari sembari menyelesaikan makannya.
“oke mbak.” Jawabku singkat.
Setelah mbak Tari membayar makanannya ke kasir, kami pun meluncur ke sebuah swalayan terdekat. Aku bingung mau beli apa sehingga mbak Tari lah yang memilihkannya untukku karena kebetulan seleraku dan selera mbak Tari sama. Ciee apakah ini salah satu tanda bahwa kami akan menjadi keluarga? Entahlah aku sendiri tidak tahu, yang pasti semua ini adalah skenario Allah yang sangat indah untukku. Setelah belanja beberapa perlengkapan rias dilanjut menuju tempat perlengkapan pakaian, tiba-tiba mbak Tari bertanya kepadaku, “Sudah benar-benar siap kan dek?”
“Insya Allah mbak.” Jawabku singkat disertai seulas senyum tulusku.
“Siap tidak siap harus siap, pokoknya mbak Tari percaya dek Fika pasti bisa jadi istri yang terbaik untuk dek Rahman.” Jawab mbak Tari sembari merangkul pundakku dari samping membuatku merasa nyaman dan lebih dekat dengan mbak Tari. Meski kami belum menjadi satu keluarga tapi sejak awal kenal mbak Tari sudah menganggapku seperti adik sendiri dan tak jarang mbak Tari mengajakku liburan atau sekedar makan keluar bersama keluarganya.
***

Hari yang ditentukan telah tiba, kini semua anggota keluargaku sibuk mempersiapkan segala keperluan acara akad nikah antara aku dengan mas Rahman. Sedangkan aku, aku harus duduk diam di sebuah ruang khusus bersama seorang wanita dengan didampingi 2 orang asistennya yang begitu cekatan merias wajahku. “Sabar Fika, ini hanya sebentar kok.” Kataku dalam hati yang notabene aku bukanlah orang yang suka dirias.
Suasana di luar begitu khidmat saat acara ijab qabul dimulai. Sebuah perjanjian suci antara seorang hamba dengan Tuhan nya yang mampu mengoncangkan ‘Arsy-Nya. Saat itu yang ku dengar hanya suara Pak Penghulu, ayahku yang menjadi waliku dan sudah pasti suara mas Rahman. Tak lama kemudian ku dengar begitu jelas semua yang hadir mengucapkan “sah” dilanjut dengan do’a.
“Alhamdulillah…” bisikku dalam hati. Tak lama kemudian ibuku masuk kedalam ruangan tempat di mana aku berada dan mendampingiku keluar untuk menemui mas Rahman yang kini telah sah menjadi suamiku, imam dalam setiap sujudku. Sungguh haru saat aku melihat senyum mas Rahman yang begitu tulus ketika melihatku. Ibu yang tahu akan apa yang aku rasakan kini mengenggam erat tanganku dan menuntunku hingga sampai di hadapan mas Rahman.
Sebagai bukti kasih sayang di antara kami berdua, mas Rahman menyematkan sebuah cincin di jari manisku sedangkan aku mengucup punggung tangannya penuh rasa syukur hingga tanpa terasa air mata bahagia mengalir membasahinya. Perlahan Mas Rahman mengangkat wajahku dan mengusap air mata di pipiku dengan kedua ujung ibu jarinya lalu mencium keningku penuh kasih sayang.
***
Hari ini terasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya, sekarang ada yang membangunkanku di sepertiga malam-Nya dan membimbingku membaca dan memahami kalam-kalam-Nya. Sesuatu yang sangat aku nanti-nantikan sejak duduk di bangku SMK dulu. Ku rasakan kecupan hangat mendarat di keningku saat mas Rahman akan membangunkanku untuk sholat malam.
“Dek, ayo bangun. Kita sholat yuk.” Ajak mas Rahman sembari membelai kepalaku.
“emh, mas sudah bangun ya?” Tanyaku saat ku buka mata mas Rahman telah duduk di samping tempat aku tidur dengan senyumnya yang terkembang di sudut bibirnya.
“Sudah dong, ayo cepetan bangun.” Mas Rahman meraih tanganku dan mengajakku ke tempat wudlu.
Sungguh bahagia aku bisa menjadi istri mas Rahman, dia berbeda dengan laki-laki kebanyakan. Yah dia begitu istimewa bagiku. Setelah selesai sholat, mas Rahman membimbingku mengeja kalam-kalam-Nya dan menjelaskan maksud dari setiap ayat-ayatnya. Sesekali dia mencubit hidungku karena aku tidak langsung paham dengan apa yang dia sampaikan.
Adzan shubuh segera berkumandang, mas Rahman pun pamit ingin sholat berjama’ah di masjid sembari mengecup keningku dan bergegas keluar menuju masjid.
***
Pagi yang indah dan butiran embun memantulkan sinar mentari membuat suasana pagi ini sangat menyenangkan. Untuk yang pertama kalinya aku memasak untuk mas Rahman, aku bingung menu apa yang cocok mengawali pagi ini hingga ku putuskan saja untuk membuatkannya sayur asam  ala chef Fika.
“Tara… makanan sudah siap sayang. Ini adek buatkan sayur asem ala chef Fika dengan racikan bumbu cinta.” Kataku dan Mas Rahman pun tertawa saat aku menghidangkan semangkok sayur asam di hadapannya.
“Ini bener kamu yang masak?” Tanya mas Rahman dengan tatapan jailnya.
“Iya dong mas, mau siapa lagi?” jawabku dengan muka cemberut dan segera saja aku ingin berlalu dari hadapan mas Rahman. Namun gagal, dia langsung menarik tanganku hingga aku jatuh ke dalam pangkuannya. Lagi-lagi hidungku jadi sasaran cubitan jemarinya.
“Jangan cemberut dong sayang, mas kan hanya bercanda. Hmm aromanya enak nih, mas sudah tidak sabar ingin mencoba masakan istri mas yang tercinta ini.” Kata mas Rahman membuatku tersenyum seketika itu juga. Aku pun langsung mengambilkannya dengan mangkok kecil yang sudah aku siapkan sebelumnya.
Hari-hari yang ku lalui bersama mas Rahman membuatku merasa menjadi wanita yang paling bahagia. Takdir Allah yang begitu indah dengan perantara perkenalanku dengan mbak Tari beberapa tahun lalu menjadi jalan pertemuanku dengan belahan jiwaku. Semoga Allah kan mengabadikan cinta ini sampai ke Syurga-Nya. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin…


_______________________________________________
Play “Kau Ditakdirkan Untukku” by Edcoustic

Terucap syukurku... Aku memilihmu
‘tuk menjadi teman hidup setia slamanya
Belahan hati ini... Kini tlah terisi
Aku dan dirimu mengikat janji bahagia…

Dan berlayarlah kita renda keluarga meretas hidup bersama
Aku bahagia ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk slamanya hingga bahagia di surga-Mu
Pegang tanganku, tataplah mataku… Engkau ditakdirkan untukku

Ikatan suci ini... Slalu ‘kan ku jaga
Meniti sakinah... Penuh Kasih Sayang dan Rahmat-Nya...

Minggu, 16 Maret 2014

Bait Pengakuan

Di sela derai air mata yang mengalir membasahi pipi

Ku coba merajut tinta menjadirangkaian pengakuanku

Senja yang gelap tanpa bias jingga di garis cakrawala

Membuat nyaliku semakin menciut dihimpit kekerdilanku

Jika engkau ragu akan diriku yang tak akan sanggup hidup sederhana denganmu

Ketahuilah bahkan aku sangat bersyukur telah diciptakan dalam kesederhanaan

Karena dengannya aku belajar tentang sifat qana'ah

Namun aku bukanlah orang yang mengerti agama

Sanggupkah engkau membimbingku mengeja setiap kalam-Nya?

Sanggupkah engkau mengajarkanku tentang ilmu-Nya?

Tips Saat Sakit Hati

Bismillah...

Hal yang dapat kita lakukan ketika merasakan sakit hati adalah berdo'a dan memohon kekuatan-Nya :)

"Yaa Allah, hamba telah memaafkannya, sembuhkanlah hamba Yaa Rabbi, jangan biarkan hati ini kotor karena perbuatan orang lain, jangan biarkan hati ini ternoda, izinkan hamba memiliki dan menikmati indahnya kehabagian jiwa, izinkan hamba merasakan indahnya kemuliaan-Mu. karena hanya ridho-Mu lah Taa Allah yang hamba harapkan. Aamiin Yaa Rabbal'alamiin...."

That's tips ringan untuk sobat-sobatku yang lagi sakit hati. Semoga bermanfaat ^_^

Salam Semangat Pagi Penuh Inspirasi ;)

Rabu, 05 Maret 2014

6 TIPS DAN DOA UNTUK MENDAPATKAN KETENANGAN HATI DAN JIWA

1. Jangan tergantung terhadap orang lain, bersikaplah mandiri dan percaya akan kemampuan yang kita miliki.

2. Jangan berburuk sangka, berfikirlah positif akan membawa pada suatu yang bermanfaat.

3. Jangan mengingat penyesalan yg tdk pantas di sesali di masa lalu, hidup itu mudah, buatlah dalam suatu perbuatan kita dengan keputusan dan jadikan masa lalu menjadi sebuah pelajaran untuk menjadi yang lebih baik.

4. Jangan pernah menyimpan dendam di hati, dendam itu di ibaratkan sebagai racun dalam hati kita, jauhi itu.

5. Jauhi sifat terburu-buru, aset dalam kehidupan bukan harta tapi waktu. maka pergunakan waktu dengan baik.

6. Jangan khawatir dengan hari esok, ketuklah pintu dan pintu pun akan terbuka, ingatlah DIA, TUHAN pun akan ingat pada kita Aamiin.

DOA MOHON KETENANGAN HATI DAN JIWA

Doa ini bisa kita amalkan agar dihilangkan dari kegelisahan, kegundahan, ketakutan, kemalasan, kelemahan, kebakhilan, beban hutang, dimudahkan dari kesulitan, dan agar pikiran tenang.

1. “Allohumma inni a’udzubika minal hammi wal huzni, wal ajzi, wal kasali, wal bukhli, wal jubni, wa dholaid daini, wa gholabatir rijali”.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita/kecemasan, dari rasa lemah dan kemalasan, dari kebakhilan dan sifat pengecut, dan beban hutang dan tekanan orang-orang (jahat)”.

2. “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dholimin”.
“Tidak ada lain selain Allah, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim”.

3. “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad dinika wa ‘ala tho’atika”.
“Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu”.

Aku tahu ya Rabb, rizkiku tak mungkin diambil orang lain, maka hatiku tenang. Amal-amalku tak mungkin diambil orang, maka aku sibukkan diriku untuk beramal. Aku tahu Allah senantiasa melihatku, maka aku malu bila Allah mendapatkanku sedang maksiat. Aku tahu bahwa kematian menantiku, maka aku persiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku, maka aku munajat kepada-Mu, khusnul khatimahkan diakhir hayatku. Aamin.

Mari bersama merengkuh penyucian jiwa dan raga dengan meluangkan waktu bangun malam.

Tidak melewatkan waktu kecuali dengan solat, dzikir dan munajat, mohon kepada sang khaliq dengan khusyu dan tawaddu.

Sesungguhnya Allah sangat dekat dengan kita.


By : Ukhty Mutiara Qolbu III

Selasa, 04 Maret 2014

Just For You


Aku tidak  mengenal apa itu milad, ultah dan lainnya                    
Karna yang aku kenal hanyalah saat di mana seseorang  itu lahir ke dunia
Awal menghirup udara yang penuh perjuangan dan pengorbanan
Demi mengumpulkan bekal untuk  pulang ke kampung akhirat

Dan aku yakin engkau pun tahu akan hal itu, bahkan lebih tahu dariku
Meski pada kenyataannya banyak  yang tak tahu
Atau sebenarnya  mereka  tahu, namun tak  menghiraukannya
Itulah yang namanya  pilihan, pilihan setiap manusia  pastilah berbeda

Kini usiamu kian berkurang untuk  mencari bekal itu
Bolehlah kiranya aku bertanya padamu
Sudah cukupkah bekal yang engkau kumpulkan?
Sudah  merasa  puaskan dengan apa yang engkau kerjakan?

Hanya do’a yang dapat aku panjatkan pada-Nya di setiap akhir sujudku
Semoga di sisa usiamu ini, engkau akan memberikan lebih banyak manfaat dan berkah untuk  orang-orang di sekitarmu
Hanya harapan yang dapat aku sampaikan padamu meski tak  ada kata yang terucap
Semoga dengan sisa usiamu ini, engkau lebih bersemangat  dalam menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya

Aamiin Yaa Rachmaan Yaa Rachiim…

Don’t Forget that :
“Keep Spirit & Keep Positive Thinking”


Smile  for  me, please….  (◕‿◕。)

BHM => Bahasa Hati Manusia

Sabtu, 01 Maret 2014

Sepi Tak Kan Selamanya Sepi

Ada yang kurang memang dalam kesendirianku kini…
Pagiku kini tak seriang kemarin…
Saat suaramu masih ku dengar…
Angin malam pun tahu…
Dingin memang tanpamu…
Bintangpun enggan keluar…
Kosong langit bagai mati…
Saat mentari kembali…
Hangat jiwa kini ku rasa…
Tolong…
Cairkan kebekuan hati ini…
Sahabat…
Sepi ini memang milikku, milikmu, milik kita…
Tapi bukan untuk selamanya…
Jangan berhenti kawan…
Jalan masih panjang…
Segenggam asa musti kau raih…
Kini atau kelak…
Engkau pasti dapat mengejar semua cita…
Impian yang engkau impikan…